Menyambut Tahun Ajaran 2026/2027: Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah
Memasuki Tahun Ajaran 2026/2027, madrasah di Indonesia menghadapi sebuah momentum penting dalam perjalanan transformasi pendidikan. Pembelajaran tidak lagi cukup dipahami sebagai proses menyampaikan materi dan mengejar pencapaian akademik semata, tetapi diarahkan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna, mendalam, reflektif, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik. Arah perubahan tersebut semakin diperkuat dengan implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai bagian dari penguatan karakter dan kekhasan pendidikan madrasah.
Kebijakan tersebut memiliki landasan yang jelas. Kementerian Agama telah menetapkan Panduan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran bagi madrasah yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Panduan tersebut menempatkan nilai-nilai cinta, kasih sayang, penghormatan terhadap kemanusiaan, dan spiritualitas sebagai bagian penting dalam proses pendidikan. Dengan demikian, Kurikulum Berbasis Cinta bukan dimaksudkan sebagai kurikulum baru yang menggantikan kurikulum yang sudah ada, melainkan sebagai jiwa yang menghidupkan proses pembelajaran melalui penyisipan nilai-nilai cinta dalam berbagai aktivitas pendidikan.
Sementara itu, Pembelajaran Mendalam membawa perubahan cara pandang terhadap proses belajar. Peserta didik diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengingat atau menghafal informasi, tetapi mampu memahami konsep secara utuh, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, melakukan refleksi, serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk memecahkan berbagai persoalan. Dengan pendekatan seperti ini, pembelajaran menjadi lebih aktif dan bermakna karena peserta didik tidak sekadar “tahu”, tetapi mampu memahami, memaknai, dan menerapkan apa yang dipelajarinya.
Menariknya, Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta memiliki tujuan yang saling melengkapi. Pembelajaran Mendalam memberikan penekanan pada kedalaman pemahaman dan pengalaman belajar, sedangkan Kurikulum Berbasis Cinta memberikan fondasi nilai agar proses pendidikan tetap berorientasi pada kemanusiaan, akhlak, empati, kepedulian, dan spiritualitas. Kementerian Agama sendiri mendorong agar kedua pendekatan tersebut diintegrasikan dalam pembelajaran madrasah sehingga pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepekaan sosial.
Kurikulum Berbasis Cinta juga memiliki cakupan nilai yang luas. Implementasinya mengembangkan enam orientasi cinta, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, cinta kepada diri sendiri, cinta kepada sesama, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada tanah air. Nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi diupayakan hadir dalam kehidupan sehari-hari di madrasah, baik melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, budaya madrasah, maupun kegiatan keagamaan.
Dalam konteks tersebut, guru memiliki posisi yang sangat strategis. Guru bukan hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, teladan, dan penggerak budaya belajar yang positif. Pembelajaran mendalam membutuhkan guru yang mampu merancang pengalaman belajar yang menantang sekaligus menyenangkan, sedangkan Kurikulum Berbasis Cinta membutuhkan keteladanan, empati, kelembutan, dan kepedulian dalam setiap interaksi dengan peserta didik. Kementerian Agama menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta membutuhkan guru yang mencintai peserta didiknya, memahami mereka dengan empati, dan membimbing dengan kelembutan.
Oleh karena itu, hadirnya Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta pada Tahun Ajaran 2026/2027 hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai perubahan administrasi kurikulum. Lebih jauh, hal ini merupakan gerakan transformasi budaya pendidikan di madrasah. Madrasah diharapkan menjadi ruang belajar yang membuat peserta didik merasa aman, dihargai, didengarkan, dan terdorong untuk berkembang sesuai potensi yang dimilikinya. Pendidikan agama dan ilmu pengetahuan tidak dipisahkan dari pembentukan kepribadian, tetapi berjalan bersama untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, peduli, toleran, dan memiliki tanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan.
Pada akhirnya, keberhasilan implementasi kebijakan ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik dokumen kurikulum disusun, tetapi oleh seberapa nyata nilai-nilai tersebut hidup dalam keseharian madrasah. Ketika guru mengajar dengan cinta, peserta didik belajar dengan kesadaran, lingkungan madrasah dibangun dengan keteladanan, dan ilmu pengetahuan dihubungkan dengan kehidupan nyata, maka madrasah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi tempat untuk menumbuhkan manusia seutuhnya.
Tahun Ajaran 2026/2027 dengan demikian dapat menjadi momentum untuk membangun wajah madrasah yang semakin humanis dan transformatif: pembelajaran yang mendalam, pendidikan yang penuh cinta, serta lulusan yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga baik hatinya dan kuat karakternya.
Berikut ini link download Capaian Pembelajaran sesuai Kemdikdasmen No 046 Tahun 2025 (untuk mata pelajaran umum) dan Capaian Pembelajaran sesuia KMA No. 1503 Tahun 2026 ( untuk mata pelajaran Agama dan Bahasa Arab) untuk Madrasah Ibtidiyah (MI) berdasarkan Fase
1. Capaian Pembelajaran (CP) Fase A
2. Capaian Pembelajaran (CP) Fase B
3. Capaian Pembelajaran (CP) Fase C